Seorang
lelaki muda sedang bahagia pada sore itu. Sebut saja lelaki muda itu bernama
Bintang. Betapa tidak, sore itu Bintang mendapatkan nomor HP seorang cewek
remaja yang selama ini menjadi bunga di hati Bintang. Cewek remaja itu adalah
Mentari.
Mentari
merupakan adik kelas Bintang. Sejak SD dan SMP mereka satu sekolah. Akan tetapi
mereka saling kenal sejak beberapa hari yang lalu. Dimana Bintang sudah lulus
SMA, dan Mentari masih duduk di bangku SMK. Tak ada yang mengira jika dulu
keduanya sudah di pertemukan.
Bunga
Bintang ini tidak pernah mengira jika Bintang sangat amat menyayanginya. Betapa
tidak, setiap pagi, Bintang selalu membagunkannya melalui pesan HP dengan
berkata bahwa dia sangat menyayangi Mentari. Dan ketika akan terlelap pun,
Bintang selalu mengucapkan kalimat yang intinya ia sangat tulus menyayangi
Mentari. Dan Mentari sangat senang dengan kejujuran Bintang.
Pada
suatu hari, Mentari sangat membutuhkan bantuan seseorang untuk mengantarkannya
ke acara pemakaman Ayahanda sahabat terbaik Mentari di luar kota. Mentari tidak
di perbolehkan berangkat sendiri oleh orang tuanya. Karena melihat kondisi
Mentari yang sangat terburu-buru dan sedih itu di khawatirkan akan mengganggu
Mentari saat di perjalanan. Akhirnya Mentari mencoba menceritakan keinginannya
kepada Bintang. Bintang yang pada saat itu sedang berada di dekat rumah
Mentari, dengan bergegasnya ia langsung menuju rumah Mentari untuk mengantarkan
Mentari ke acara pemakaman siang itu.
“Alhamdulillah,
ada orang sebaik Bintang”, gumam Mentari saat melihat Bintang telah sampai di
halaman rumahnya.
“Mentari,
kamu tau lokasi pemakamannya? Aku gak hafal daerah sana loh. Kalau nyasar
gimana?”, Tanya Bintang.
“Aku
udah di kasih petunjuk arahnya kok sama sahabat ku itu. Ayo cabut. Keburu telat
nih”, jawab Mentari sambil berusaha duduk di sepedah Bintang.
“Oke,
pegangan ya”, pintah Bintang kepada Mentari.
Dalam
perjalanan menuju lokasi pemakaman, Mentari sangat sibuk dengan HP nya. Sedangkan
Bintang sibuk pada kondisi jalan raya yang saat itu sangat ramai. Sesekali
mereka berbincang, terutama mempertanyakan arah jalan. Yaa, keduanya memang
sama-sama tidak tahu lokasinya. Akhirnya, setelah mengikuti petunjuk arah dari
sahabat Mentari, mereka pun sampai di ujung gang yang pada saat itu ada kekasih
Sari, sahabat Mentari. Lelaki itu bernama Putra. Dia di suruh Sari untuk menjemput
Bintang dan Mentari di ujung gang.
Tibalah
mereka di area pemakaman Ayahanda Sari. Dan Mentari langsung mencari sosok Sari
di sekeliling orang-orang yang memadati
jalan setapak itu. Pecah sudah pertahanan air mata Mentari yang saat itu dalam pelukan
Sari yang sangat sedih itu.
Setelah
di kebumikan jasad Ayahanda Sari, tanpa menunggu lama Bintang, Mentari, Sari
dan Putra memutuskan untuk pulang menenangkan diri di rumah Sari.
Setelah
kejadian itu, pada malam hari si Bintang beraksi lagi. Dia justru bercerita
tentang masa lalunya kepada Mentari. Ia menceritakan tentang dirinya yang
terkenal playboy itu. Sungguh, suatu
pengakuan yang sangat membuat Mentari sempat shock itu. Bagaimana tidak, Bintang di mata Mentari adalah sosok
lelaki yang sangat beriman. Akan tetapi, itu berbeda dengan masa lalunya.
Mentari
juga ingin berbagi cerita kepada Bintang. Terutama tentang hal percintaan. Mentari
berkata bahwa ia seringkali tersakiti oleh para lelaki. Cinta lelaki sangatlah
kejam bagi Mentari. Sangat bersampul bagus namun berisi palsu. Begitulah istilah
Mentari mengenai cinta yang selama ini ia dapatkan dari mantan-mantan
kekasihnya. Dan oleh karena itu pula, Mentari berjanji kepada diri sendiri dan
mamanya untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan lelaki selama ia masih duduk
di bangku SMK. Dan perjanjian itu juga sangat terjaga terlebih lagi ada hal yang
dijanjikan oleh papa Mentari jika berhasil menepati janji.
Bintang
yang pada saat itu mendengarkan melalui HP, akhirnya unjuk suara. Dia terlihat
sangat menyesali perkataan Mentari yang ternyata telah menghancurkan harapan
Bintang untuk bisa menjadi kekasih Mentari. Karena terbukti bahwa Mentari tidak
akan membuka hati untuk siapapun.
Akhirnya
Bintang memutuskan untuk mengakhiri pertemanannya dengan Mentari. Baginya,
hanya itu lah solusi untuk membantu Bintang melupakan Mentari dan berhenti
mengharapkan Mentari. Dan dengan berat hati, keputusan itupun terkabulkan.
Mentari
sangat merasa kehilangan pada saat itu. Ia merasa bahwa orang yang
menyayanginya telah meninggalkannya dengan keputusan egoisnya itu. Mentari
ingin sekali berkata kepada Bintang bahwa “cinta
tak harus memiliki”, hal itu bermaksud untuk mengingatkan Bintang. Akan tetapi,
Bintang terlanjur menyudahi telepon di malam itu.
Keesokan
paginya, Bintang mengirim pesan kepada Mentari. Yang intinya berisi sebuah
penyesalan Bintang terhadap keputusannya itu. Dan Bintang telah menyadari
dengan sendirinya bahwa “cinta itu tak
harus memiliki”. Betapa senangnya hati Mentari pada saat itu.
Selang
beberapa hari, Bintang berbuat ulah lagi. Untuk kedua kalinya, Bintang
memutuskan tali pertemanannya dengan Mentari dengan alasan yang sama pada
beberapa hari yang lalu. Tampaknya Bintang ingin sekali berusaha untuk
melupakan dan menghilangkan rasanya dari sosok Mentari. Tanpa penolakan dan
basa-basi, Mentari langsung meng-iya-kan keputusan Bintang.
Pesan
dari cerpen di atas :
“cinta itu tak harus
memiliki. Cinta adalah hal abstrak yang tidak bisa di lihat, di raba bahkan di
prediksi. Biarkan cintamu memilih pasangan cintanya dengan sendirinya. Karena cinta
tak bisa di paksakan. Dan yakinlah, cinta yang terpaksa hanya akan bersampul
bagus dan berisi palsu. Serta jangan sesekali memainkan kata cinta kepada orang
lain. Karena di balik cinta da sebuah kebalikan nasib, yaitu KARMA”
Jadi, buat kamu Girls & Boys berbijaksanalah
dalam CINTA

puitis bwanget
BalasHapushaha, ini di ambil dari kisah nyata ku :)
BalasHapus